
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana manusia modern menghabiskan sebagian besar waktunya? Sejak matahari terbit hingga terbenam kembali, jutaan orang bergegas memenuhi jalanan, memeras keringat, dan memeras otak demi satu tujuan: mengumpulkan materi. Uang, properti, kendaraan mewah, hingga status sosial seolah menjadi piala yang wajib diraih demi memenangkan kompetisi kehidupan. Namun, di tengah hiruk-pikuk pengejaran yang tiada habisnya ini, kita sering kali lupa bertanya pada diri sendiri tentang sebuah hakikat yang fundamental: apa sebenarnya arti dari semua kepemilikan ini?
Jika kita bersedia sejenak menepi dari kebisingan dunia dan merenung dengan jernih, kita akan menyadari sebuah realitas yang tak terbantahkan. Dunia beserta seluruh kilau kekayaannya sebenarnya tak lebih dari sekadar barang titipan. Layaknya seorang tamu yang menginap di sebuah hotel mewah, kita diizinkan menikmati seluruh fasilitas yang ada, namun sama sekali tidak memiliki hak untuk membawa pulang satu pun perabotannya saat waktu menginap kita telah habis.
leh sebabitulah kalangan bijak bestari mengatakan,” Tentukan harga sesuatu itu secara Rasional. Sebab, dunia dan seisinya tidak lebih mahal dari jiwa seoranng Mukmin.”
” Dan, Tiadalah Kehidupan Dunia ini melainkan sendagurau dan Main-Main” ( QS.Al’Ankabut:64)
Analogi yang paling sempurna untuk menggambarkan posisi manusia di dunia adalah seorang pelayan yang dititipi tas kerja oleh majikannya. Sang pelayan boleh membawa tas tersebut ke mana-mana, menjaga isinya, bahkan mungkin menggunakan fasilitas di dalamnya untuk menunjang pekerjaannya. Namun, pelayan yang bijak tidak akan pernah menyombongkan isi tas tersebut kepada orang lain, karena ia tahu persis bahwa sewaktu-waktu sang pemilik asli bisa mengambilnya kembali tanpa perlu meminta izin terlebih dahulu.
Kekayaan yang sejati bukanlah apa yang kita genggam, melainkan apa yang telah kita berikan dan bagaimana kita mengelola titipan tersebut demi kebaikan.”
Sifat dasar dari barang titipan adalah kedatangannya yang tidak pasti dan kepergiannya yang bisa terjadi kapan saja. Hari ini kita mungkin berdiri di puncak kesuksesan finansial, namun esok hari, sebuah krisis ekonomi atau bencana tak terduga bisa menyapu bersih semua itu dalam sekejap mata. Ketika kita memandang kekayaan sebagai milik mutlak, kehilangan akan terasa sangat menyakitkan dan memicu stres yang mendalam. Sebaliknya, jika kita memandangnya sebagai titipan, kita akan lebih ikhlas dan tangguh saat titipan itu diambil kembali oleh Sang Maha Pemilik.
“Sesungguhnya mereka ( Orang Kafir ) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat ( Hari Kiamat ). ( QS.Al-Insan:27)”
Memahami konsep titipan ini juga menjadi obat penawar yang paling mujarab bagi penyakit hati bernama kesombongan. Orang yang sombong karena hartanya adalah orang yang gagal memahami bahwa apa yang ia pamerkan bukanlah hasil mutlak dari kehebatannya sendiri, melainkan murni sebuah amanah. Tidak ada alasan logis untuk merasa lebih tinggi dari orang lain hanya karena kita memegang titipan yang lebih banyak. Justru, semakin banyak titipan yang berada di tangan kita, semakin besar pula tanggung jawab yang harus kita pikul.
Di sinilah letak ujian sebenarnya dari sebuah kekayaan. Harta yang dititipkan kepada kita bukan sekadar untuk ditumpuk atau dijadikan alat pemuas gaya hidup yang hedonistik. Kekayaan tersebut adalah instrumen ujian untuk melihat sejauh mana tingkat kepedulian sosial kita. Apakah harta tersebut membuat kita semakin buta terhadap penderitaan sesama, atau justru menjadi jembatan bagi kita untuk menebar manfaat dan meringankan beban orang-orang yang kekurangan di sekitar kita?
Pada akhirnya, sebuah garis finis yang bernama kematian akan menyadarkan setiap manusia dari mimpi panjangnya tentang kepemilikan dunia. Saat raga ini terbujur kaku, seluruh pakaian mahal akan ditanggalkan dan diganti dengan selembar kain putih tanpa kantong. Rumah megah yang kita bangun dengan susah payah akan berpindah nama, dan kendaraan mewah kita akan dikemudikan oleh orang lain. Kita akan melangkah menuju alam berikutnya dengan tangan yang benar-benar hampa dari materi.
Oleh karena itu, selagi kita masih diberi kesempatan untuk bernapas dan mengelola berbagai titipan di dunia ini, mari kita gunakan dengan sebijak mungkin. Jangan biarkan titipan tersebut justru membelenggu jiwa kita dan membuat kita lupa pada tujuan hidup yang hakiki. Jadikan kekayaan di tangan kita sebagai alat untuk mengumpulkan bekal non-materi—seperti kasih sayang, kebaikan, dan amal jariyah—karena itulah satu-satunya “kekayaan” sejati yang akan setia menemani kita hingga akhirat kelak.


